Kenapa Saya Susah Disiplin? Cek Lingkungan Sebelum Menyalahkan Diri

Coba lakukan tugas yang sama di dua tempat berbeda, lalu lihat apakah kesulitannya ikut berubah.

Seseorang membawa buku catatan terbuka yang sama dari meja bersama yang ramai menuju tempat belajar yang lebih tenang.

Artikel ini untuk Anda jika

Anda ingin belajar, berlatih, membaca, atau memulai perubahan yang berguna, tetapi sering sulit memulai dan mulai merasa kurang disiplin.

Setelah membaca, Anda akan mampu

Anda dapat membandingkan tugas yang sama di dua lingkungan, membaca hasilnya dengan hati-hati, lalu memilih langkah berikutnya sesuai hambatan yang benar-benar terlihat.

Tugasnya sama, tetapi di satu tempat rasanya jauh lebih berat. Boleh kita cek tempatnya dulu sebelum menyalahkan diri?

Bayangkan satu malam biasa.

Anda membuka materi belajar di meja rumah, tetapi ruangan itu juga dipakai untuk mengobrol, menonton, makan, atau lalu-lalang. Ponsel ada di dekat tangan, dan sepuluh menit lewat sebelum Anda benar-benar mulai.

Di hari lain, materi yang sama dibawa ke perpustakaan kampus, ruang baca, atau sudut yang lebih tenang di dekat kos. Kali ini Anda mulai jauh lebih cepat.

Adegan pertama mudah berubah menjadi kalimat, “Saya memang tidak disiplin.”

Namun adegan kedua memberi petunjuk lain. Orangnya tetap sama, sedangkan kondisi di sekitar tugas berubah.

Itu belum membuktikan bahwa lingkungan adalah penyebab seluruh masalah. Artinya lebih sederhana: kurang disiplin bukan satu-satunya penjelasan yang layak diuji.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah: Apakah kesulitan ini mengikuti saya ke mana pun, atau justru membesar di lingkungan tertentu?

Jawaban singkat

  • Mari bandingkan tugas yang sama di dua lingkungan sebelum menyebutnya masalah disiplin.
  • Mari ubah satu bagian dari keadaan sekitar sambil menjaga tugas tetap hampir sama.
  • Mari gunakan hasilnya untuk menentukan apakah langkah berikutnya perlu mengubah lingkungan atau mencari hambatan lain.

1. Cari perbedaan nyata yang sudah ada dalam minggu Anda

Anda mungkin sebenarnya sudah punya dua contoh tanpa perlu merancang apa pun.

Mungkin Anda bisa membaca beberapa halaman saat naik KRL atau bus kota, tetapi buku tetap tertutup ketika sudah sampai rumah. Mungkin modul daring bisa selesai di sudut kampus yang tenang, tetapi terus tertunda saat dikerjakan di kamar kos. Mungkin latihan berjalan baik saat duduk di meja, tetapi buyar ketika ponsel yang sama juga dipakai untuk hiburan.

Label besar seperti “saya tidak disiplin” menutupi perbedaan itu. Perbandingan justru membuatnya terlihat.

Penelitian tahun 2022 memberi alasan untuk memperhatikan konteks yang berulang. Dalam Studi 1, 95 mahasiswa membangun kebiasaan belajar baru selama enam minggu. Satu kelompok diminta menjaga tempat dan waktu tetap stabil, sedangkan kelompok lain diminta mengubah-ubahnya. Dalam analisis para peneliti, konteks yang lebih stabil berkaitan dengan otomatisitas yang lebih tinggi—artinya tindakan terasa lebih sedikit bergantung pada kontrol sadar—serta penyelesaian pengulangan kebiasaan yang lebih baik. Kumpulan data kedua dari aplikasi pembentuk kebiasaan menunjukkan pola umum yang sama. (Frontiers in Psychology)

Penelitian itu tidak membuktikan bahwa satu meja tertentu akan menyelesaikan masalah Anda. Sebagian besar peserta dalam studi terkontrol adalah mahasiswa psikologi, dan yang diteliti adalah kebiasaan belajar baru, bukan semua jenis perubahan hidup.

Yang penting bagi kita lebih sempit: kondisi yang berulang di sekitar suatu tindakan dapat menjadi bagian dari alasan mengapa tindakan itu terasa lebih mudah atau lebih sulit.

Bayangkan materi dua puluh menit yang sama pada dua malam. Malam pertama, Anda mengerjakannya di ruang bersama ketika percakapan, pesan masuk, dan kegiatan lain terus bersaing mendapatkan perhatian. Malam kedua, Anda duduk di tempat yang biasanya memang dipakai untuk membaca atau bekerja.

Jika lima menit pertama terasa sangat berbeda, jangan abaikan perbedaan itu.

Pertanyaannya bisa dibuat lebih tepat: Di lingkungan mana saya lebih mudah memulai tindakan ini?

2. Ubah satu kondisi tanpa membongkar seluruh rutinitas

Begitu tempat terlihat berpengaruh, mudah sekali tergoda untuk mengubah semuanya sekaligus.

Aplikasi baru, jadwal baru, meja baru, dan target baru bisa datang bersamaan. Jika sesi berikutnya berjalan lebih baik, Anda tidak akan tahu perubahan mana yang membantu.

Perbandingan yang lebih bersih menjaga sebagian besar hal tetap sama.

Misalnya, Anda ingin belajar satu materi selama dua puluh menit setelah makan malam.

Tetap sama: materinya, target dua puluh menit, dan langkah pertama membuka catatan.

Ubah: hanya tempat duduk.

Amati: berapa lama sampai Anda mulai dan apakah Anda bertahan sampai waktu yang direncanakan selesai.

Ini bukan eksperimen ilmiah. Beberapa kali percobaan tidak bisa membuktikan kebenaran permanen tentang kepribadian Anda.

Ini hanya perbandingan praktis. Tujuannya mengganti kalimat kabur seperti “saya selalu gagal” dengan sesuatu yang benar-benar bisa diamati.

Sebuah studi PLOS ONE tahun 2016 memberi alasan lain untuk memasukkan konteks ke dalam gambar. Para peneliti menganalisis data perjalanan kerja dari 18.053 orang di Inggris. Hasilnya sesuai dengan gagasan bahwa pindah rumah dapat mengganggu kebiasaan perjalanan yang sudah terbentuk, terutama tidak lama setelah perpindahan. Karena penelitian ini bersifat observasional dan membahas perjalanan setelah perubahan tempat tinggal yang besar, hasilnya tidak dapat digunakan untuk mengatakan bahwa pindah dari kasur kos ke meja belajar akan memberi efek yang sama. (PLOS ONE)

Kesimpulan yang kita perlukan jauh lebih kecil: perilaku yang berulang dapat berkaitan dengan lingkungan yang juga berulang.

Jadi, jika tempat belajar Anda biasanya adalah kasur yang sama untuk scrolling dan menonton video, pertahankan materi dan waktunya tetapi pindahkan tempatnya. Meja, perpustakaan, ruang belajar bersama, atau tempat tenang lain yang tersedia dapat memberi perbandingan yang lebih jelas.

Jika memulai menjadi jauh lebih mudah, Anda belum membuktikan bahwa tempat baru punya kekuatan khusus. Anda baru mengetahui bahwa tempat lama mungkin menambah gesekan.

Jika perbedaannya kecil, itu juga informasi penting. Mungkin masalah utama memang bukan tempatnya.

3. Gunakan sisa kesulitan untuk menemukan hambatan berikutnya

Sekarang hasil perbandingan mulai berguna.

Misalnya, di tempat biasa Anda menunda dua puluh lima menit lalu berhenti setelah lima menit belajar. Di tempat kedua, Anda mulai dalam dua menit dan menyelesaikan dua puluh menit yang direncanakan.

Angka itu tidak menjelaskan penyebab dengan sendirinya. Angka hanya memberi tahu bagian mana yang pantas diperiksa.

Apakah satu tempat penuh kegiatan lain? Apakah catatan sudah siap di satu tempat tetapi harus dicari-cari di tempat lain? Apakah satu lingkungan membuat langkah “duduk lalu mulai” terasa lebih jelas?

Sekarang bayangkan hasil sebaliknya.

Anda pindah ke tempat yang lebih tenang, tetapi tetap berhenti di titik yang sama.

Mungkin materi masuk ke istilah teknis yang belum Anda pahami. Mungkin terlalu banyak tab terbuka karena Anda belum tahu topik mana yang harus dipelajari lebih dulu. Mungkin waktu belajar terus berbenturan dengan perjalanan, kelas, pekerjaan, atau urusan keluarga yang memang tidak bisa diabaikan.

Hambatan seperti itu berbeda, sehingga jawabannya juga berbeda.

Kesenjangan pengetahuan mungkin membutuhkan penjelasan yang lebih jelas atau urutan belajar yang lebih terstruktur. Benturan waktu mungkin membutuhkan slot lain dalam hari Anda. Tujuan yang sudah tidak terasa penting mungkin perlu dipikirkan ulang.

Inilah mengapa “saya harus lebih disiplin” adalah diagnosis awal yang lemah. Kalimat itu menggambarkan rasa frustrasi, tetapi tidak menunjukkan bagian mana yang perlu diubah.

Jika kesulitan berkurang banyak setelah lingkungan berubah, mengatur ulang lingkungan adalah langkah berikutnya yang masuk akal.

Jika kesulitan tetap hampir sama di beberapa tempat yang Anda coba, lingkungan menjadi penjelasan yang lebih lemah. Lihat lagi tugasnya, waktunya, pengetahuan yang dibutuhkan, atau tujuannya.

Dalam kedua hasil itu, Anda sudah mengganti penilaian terhadap diri sendiri dengan pertanyaan yang lebih berguna.

Kalau diri Anda tetap sama tetapi hasil berubah bersama tempatnya, lingkungan ikut menjadi bagian dari penjelasan

Tiga langkah ini perlu dibaca sebagai satu urutan.

Pertama, cari perbedaan nyata antara dua lingkungan. Kedua, ubah satu kondisi sambil menjaga tugas hampir sama. Ketiga, gunakan kesulitan yang masih tersisa untuk memilih jenis solusi berikutnya.

Perbedaan yang besar memberi alasan untuk melihat lingkungan lebih dekat. Perbedaan yang kecil atau hampir tidak ada mengarahkan perhatian ke tugas, waktu, pengetahuan yang dibutuhkan, atau alasan Anda mengerjakannya.

Gagasan yang perlu diingat sederhana:

Jika orang yang sama menangani tugas yang sama dengan cara berbeda di lingkungan lain, lingkungan layak menjadi bagian dari penjelasan.

Ini tidak menghapus usaha atau tanggung jawab. Justru ini membantu Anda menaruh keduanya pada hambatan yang benar-benar ada di depan Anda.

Bergerak lebih dekat ke diri yang ingin Anda bangun

  • Mari pilih satu perubahan yang selama ini Anda sebut masalah disiplin, lalu lihat di mana tindakan serupa sebenarnya terasa lebih mudah.
  • Mari pertahankan tugas hampir sama dan ubah satu bagian lingkungan supaya perbedaannya lebih mudah dibaca.
  • Mari gunakan hasilnya untuk menentukan apakah langkah berikutnya bersifat lingkungan, praktis, atau pendidikan.