Setelah Pesan Terkirim, Apa yang Masih Bisa Kamu Lakukan? 3 Langkah untuk Menunggu Tanpa Mengejar Jawaban

Gunakan satu pembedaan sederhana dari Epictetus untuk memisahkan langkahmu berikutnya dari jawaban atau keputusan yang kini berada di tangan orang lain.

Seseorang di Indonesia membalik ponsel setelah mengirim pesan penting lalu meraih buku catatan.

Artikel ini untuk Anda jika

Kamu sudah mengirim pesan, mengikuti wawancara, mengajukan permintaan, atau meminta maaf, tetapi terus mengecek karena jawaban akhirnya kini juga bergantung pada orang lain.

Setelah membaca, Anda akan mampu

Kamu akan bisa memisahkan apa yang masih menjadi bagianmu dari apa yang bukan, menyelesaikan satu langkah yang berguna, dan memakai hasil akhirnya sebagai informasi, bukan sebagai vonis terhadap dirimu.

Pesannya sudah terkirim. Kenapa kita masih membuka chat seolah jawabannya bisa berubah setiap menit?

Kamu baru selesai wawancara video dari kamar kos di Bandung lalu menutup laptop.

Tidak lama kemudian, ponsel menyala karena notifikasi WhatsApp.

Ternyata bukan pesan yang kamu tunggu.

Ponsel sudah kamu letakkan, tetapi perhatianmu masih tertinggal di sana.

Mungkin aku perlu mengirim pesan lagi sekarang.

Mungkin jawabanku tadi kurang bagus.

Mungkin tidak ada balasan berarti jawabannya sudah tidak.

Karena hasilnya penting, menunggu mulai terasa seperti pekerjaan tambahan.

Padahal sebuah situasi bisa masih terbuka meskipun bagianmu sudah selesai untuk sementara.

Dalam terjemahan bahasa Inggris karya Elizabeth Carter atas Enchiridion karya Epictetus, bagian pertama dimulai dengan kalimat:

“Some things are in our control and others not.”

Pada bagian yang sama, “whatever are our own actions” dimasukkan ke dalam hal-hal yang berada dalam kendali kita, sedangkan hal seperti reputasi dan jabatan ditempatkan di luar kelompok itu. Teks tersebut dapat dibaca di MIT Internet Classics Archive.

Untuk kehidupan sehari-hari, kita bisa mengubah pembedaan lama itu menjadi satu pertanyaan sederhana:

Bagian mana dari situasi ini yang masih membutuhkan tindakan dariku?

Mari beri batas yang jelas pada masa menunggu

  • Mari pisahkan bagian yang masih bisa kita lakukan dari jawaban yang harus diberikan orang lain.
  • Mari pilih satu langkah berguna yang benar-benar punya titik selesai.
  • Mari gunakan hasil akhirnya untuk belajar tanpa menjadikannya vonis atas diri kita.

1. Pisahkan bagianmu dari keputusan yang tidak bisa kamu buat

Bayangkan wawancara video tadi baru selesai.

Kamu tentu ingin mendapatkan posisi itu, tetapi kalimat “aku harus membuat mereka memilihku” mencampurkan pekerjaan dua pihak yang berbeda.

Bagianmu mencakup persiapan, cara menjawab, dokumen yang kamu janjikan, dan hal yang ingin kamu perbaiki setelah wawancara.

Bagian mereka mencakup siapa lagi yang mereka ajak bicara, apa yang dibutuhkan tim, kapan keputusan dibuat, dan siapa yang akhirnya dipilih.

Pembedaan dari Epictetus membantu karena dua sisi ini tidak lagi menjadi satu masalah yang kabur. Maksudnya bukan bahwa hasil di luar dirimu tidak penting; maksudnya, tindakan orang lain tidak bisa kamu lakukan atas nama mereka.

Coba buat sebuah garis kendali setelah wawancara:

Masih bagianku

  • Mengirim dokumen atau informasi yang sudah kujanjikan.
  • Mencatat pertanyaan yang membuat jawabanku terasa lemah.
  • Melatih jawaban yang lebih jelas sebelum wawancara lain yang cocok.

Bukan bagianku

  • Keputusan akhir perekrut.
  • Siapa lagi yang sedang dipertimbangkan.
  • Jam tepat kapan balasan datang.
  • Penilaian yang mereka bentuk setelah percakapan selesai.

Bagian kedua tetap boleh penting bagimu. Hanya saja, bagian itu tidak menjadi lebih bisa kamu kendalikan karena kamu terus menatap ponsel.

Bayangkan kipas di kamar masih berputar sementara laptop sudah tertutup. Kamu menulis satu catatan singkat untuk wawancara berikutnya, lalu menutup buku.

Belum ada yang berubah di luar dirimu.

Namun batas tanggung jawabmu sudah lebih jelas, sehingga menunggu tidak perlu menyamar sebagai pekerjaan.

2. Pilih langkah berikutnya yang bisa selesai tanpa izin orang lain

Sekarang bayangkan yang kamu tunggu bukan soal pekerjaan.

Kamu sempat salah paham dengan teman atau rekan kerja di grup WhatsApp, lalu mengirim permintaan maaf. Pesannya sudah dibaca, tetapi belum ada balasan.

Kamu mungkin berharap orang itu memaafkanmu.

Harapan itu wajar, tetapi “membuat dia memaafkanku” bukan tindakan yang bisa kamu selesaikan sendiri.

Kamu bisa memastikan permintaan maafmu menjelaskan apa yang kamu sesali. Kamu bisa memperbaiki hal praktis yang masih bisa diperbaiki. Kamu juga bisa menahan diri untuk tidak mengirim pesan tambahan hanya agar rasa menunggumu berkurang.

Setelah itu, orang lain mungkin memang membutuhkan waktu.

Cara yang sama juga bisa dipakai untuk proposal atau permintaan. Misalnya, kamu sudah mengirim penawaran untuk pekerjaan desain kecil kepada usaha makanan lokal di Surabaya.

Hasil yang kuharapkan:
Klien menerima proposalku.

Bagian yang membutuhkan keputusan mereka:
Apakah mereka mengatakan ya.

Bagian yang bisa kuselesaikan:
Memeriksa kembali apa yang kujanjikan, mengirim detail yang masih kurang, lalu menentukan kapan aku akan mengecek balasan lagi.

Baris terakhir itu membuat waktu cek berikutnya. Maksudnya hanya satu waktu ketika informasi baru benar-benar bisa memberimu keputusan baru untuk dibuat.

Sebelum waktu itu, membuka email atau WhatsApp setiap beberapa menit tidak menambah kemajuan.

Kamu bisa menyimpan ponsel di tas saat makan, dalam perjalanan pulang, atau ketika mulai mengerjakan hal lain.

Kamu bukan sedang berpura-pura bahwa jawabannya tidak penting. Kamu hanya memberi batas pada masa menunggu.

3. Saat jawabannya datang, pisahkan apa yang terjadi dari kualitas tindakanmu

Beberapa hari kemudian, balasan akhirnya datang.

Mungkin perekrut memilih orang lain. Mungkin usaha kecil tadi menolak proposalmu. Mungkin orang yang menerima permintaan maafmu masih ingin menjaga jarak.

Sekarang ada dua pertanyaan yang berguna:

Apa yang terjadi?

Dan:

Apa yang benar-benar diberitahukan hasil ini tentang bagian yang menjadi tanggung jawabku?

Jawaban untuk dua pertanyaan itu bisa berbeda.

Proposal yang rapi dan jelas tetap bisa ditolak. Proposal yang diterima juga bisa saja memiliki bagian yang dikerjakan terlalu terburu-buru.

Jadi, hasil tetap penting, tetapi hasil bukan nilai sempurna untuk mengukur kualitas tindakanmu.

Gunakan hanya informasi yang benar-benar diberikan oleh hasil itu. Jika beberapa wawancara menunjukkan kekurangan keterampilan yang sama, pola itu layak diperhatikan. Jika beberapa klien salah memahami bagian yang sama dari proposalmu, mungkin kalimatnya perlu diperjelas.

Bayangkan kamu membaca pesan penolakan sambil duduk di sebuah kafe sebelum pulang.

Rasa kecewa mungkin datang lebih dulu.

Lalu kamu kembali ke garis kendali: apakah pesan ini memberi informasi baru yang mengubah sesuatu yang bisa kamu lakukan?

Jika ya, berarti ada tindakan baru.

Jika tidak, mungkin memang tidak ada lagi yang perlu diselesaikan dari situasi itu hari ini.

Jawabannya tetap boleh terasa menyakitkan. Hanya saja, rasa kecewa tidak perlu menciptakan pekerjaan tambahan yang sebenarnya bukan bagianmu.

Pisahkan perannya dulu, selesaikan bagianmu, lalu belajar dari jawaban yang datang

Ketiga bagian ini saling terhubung karena masing-masing menyelesaikan masalah yang berbeda.

Garis kendali menunjukkan di mana tanggung jawabmu berhenti. Langkah yang bisa selesai mencegah masa menunggu menyebar ke seluruh harimu. Setelah itu, hasil akhir bisa menjadi informasi untuk percobaan berikutnya.

Jika bagian pertama dilewati, kamu mungkin terus mengirim pesan padahal pekerjaanmu sudah selesai. Jika bagian kedua dilewati, kamu mungkin paham batasnya tetapi tetap berputar pada pikiran yang sama sepanjang malam. Jika hasilnya diabaikan, kamu bisa kehilangan masukan yang memang layak mengubah langkah berikutnya.

Tujuannya bukan berhenti peduli.

Tujuannya adalah tetap peduli pada jawaban tanpa mengambil tanggung jawab atas keputusan yang memang bukan milikmu untuk dibuat.

Lebih dekat dengan dirimu yang ingin kamu bangun

  • Mari ambil satu jawaban yang sedang kamu tunggu, lalu bagi situasinya menjadi Masih bagianku dan Bukan bagianku.
  • Mari pilih satu tindakan berguna dari sisi pertama yang benar-benar bisa selesai hari ini.
  • Mari tentukan kapan kita akan mengecek informasi baru lagi, lalu kembalikan waktu di antaranya kepada bagian hidup kita yang lain.